Dingin

Tiba-tiba dingin…sedingin es,

Buliran air mata tak terasa menetes,

Menghilang seperti angin yang berhembus,

Hanya sekejap hadir kemudian pupus,

 

Dingin…alam pun menyapa dengan dingin,

Menyentuh membekukan batin,

Langit berhias gelap terhembus bayu,

Menjejaki irama dalam kalbu,

 

Duhai…takkah kau mendengar alunan keperihan hati,

Sirnakan ia dengan sepenggal kata yang terburai,

Jangan kau biarkan ia membatu,

Yang kan hancur menunggu waktu.

Rumak, 3 Ramadhan 1433

23 juli 2012

Mencoba membahasakan situasi dalam puisi. Entah benar atau salah, itu hanya sekedar ekspresi semata. Makna dalam puisi biasanya tersirat, jadi jangan diartikan mentah-mentah (ngga semua yang loe baca itu bener n ngga semua yang salah itu loe baca ,hehe).

Advertisements

4 thoughts on “Dingin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s