[Resensi] Cinta Mengajarkan Banyak Hal

bukan pangeran kodok ACC

Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini, pasti pernah merasakan cinta. Baik itu cinta yang dalam ataupun cinta yang dangkal. Bicara mengenai cinta juga tidak ada habisnya. Selalu ada sisi menarik yang bisa dikupas.

Buku Bukan Pangeran Kodok merupakan kumpulan cerita pendek yang membahas mengenai cinta. Karya beberapa penulis hebat yang tergabung dalam komunitas Be A Writer. Terdapat total 15 kisah yang dibuat oleh penulis yang berbeda.

Cerita pertama di buka oleh cerpen yang berjudul Jejaring Romansa. Kisah mengenai remaja sekolah bernama Anne yang akun fb-nya di hack oleh seseorang. Hacker tersebut mengunggah foto dan status yang membuat Anne malu dan mencemarkan nama baiknya. Anne dan sahabatnya pun berusaha mencari tahu pelaku di balik serangan itu. Mereka meminta tolong pada Langit teman satu angkatan di sekolah untuk memulihkan akun Anne kembali. Namun, sebuah pesan singkat yang diterima oleh Anne mengatakan bahwa Langit-lah pelaku yang sebenarnya. Benarkah Langit, orang yang diam-diam disukai Anne merupakan dalang di balik semua ini? Jika memang benar Langit pelakunya, apa motif yang membuatnya melakukan hal keji tersebut? Cerita yang membuat pembaca ketar ketir karena penasaran.

Cerita selanjutnya juga tidak kalah menarik dan seru untuk dibaca. Seperti kisah Fee yang jatuh cinta pada pria yang lebih tua 12 tahun darinya dalam cerpen Cinta Salah Tempat oleh Linda Satibi. Lakon mengenai seorang gadis yang menempuh jarak Lima ratus kilometer untuk menemui sang pujaan hati yang hanya dikenal melalui sosial media, ditulis oleh Dhewi Bayu Larasati. Dia yang Kembali Tersenyum oleh Riawani Elyta bercerita mengenai perjuangan meraih cinta meskipun harus dijalani dengan kesusahan. Kemudian beberapa judul cerpen lainnya dan ditutup oleh kisah menggemaskan Bukan Pangeran Kodok dari Shabrina ws.

Kisah-kisah yang dituturkan tidak hanya berbicara mengenai cinta pada lawan jenis. Melainkan juga cinta dalam bentuk yang berbeda, seperti Tongkat Bambu Kuning Ayah (Hal.103 – 114). Cerpen ini berkisah mengenai ketulusan cinta seorang ayah pada anak-anaknya. Meskipun si ayah berkaki pincang dan miskin, Ia tetap berjuang untuk membahagiakan ketiga puterinya. Maka wajar jika kata sebagai abjad tak akan mampu mengurai rasa cinta sang anak padanya (Hal.114). Sebuah kisah yang mengharukan dan menyentuh hati. Mengajarkan bahwa harta tidak akan pernah mampu mengalahkan ketulusan kasih.

Kalimat-kalimat yang terdapat pada awal setiap bab pun dirangkai indah dan sangat cocok untuk dijadikan quote layaknya kata mutiara. Seperti kalimat “Kamu mungkin hanya menganggap cinta selalu penuh madu, sampai kamu sadari cinta juga punya racun” (hal.44). Kalimat sederhana, namun maknanya tajam menghujam. Atau kalimat “Cinta bukan simpul mati, ia bisa diurai dengan kedalaman hati” (hal.191). Perkataan yang penuh dengan kelembutan, seperti sebuah nasehat yang halus.

Dari beberapa cerita yang terdapat dalam buku ini. Ada satu judul yang seharusnya tidak menjadi bagian buku Bukan Pangeran Kodok yaitu “My Name is Dewi” (hal.146 – 163). Tema yang dipaparkan lebih menitik beratkan pada semangat dan perjuangan untuk mengalahkan rasa takut dibandingkan dengan kisah cinta. Padahal, cerita yang lain berbicara mengenai cinta. Cerpen ini seolah-olah menjadi cerpen yang salah alamat.

Sedangkan dari alur cerita, hampir semua kisah mempunyai twist ending khas sebuah cerita pendek. Hanya satu cerpen yang berjudul “Kita dan Rasa yang Diam-Diam” (hal.73-88) memiliki alur yang bisa ditebak. Ditambah monolog yang dilakukan oleh tokoh menimbulkan kejenuhan. Membaca satu cerita pendek jadi seperti membaca sebuah novel.

Bagaimanapun, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari setiap cerita. Pembaca akan menyadari, ternyata cinta mengajari manusia banyak hal. Karena itu, bagi yang akan atau sedang jatuh cinta dan belum banyak mengenal cinta, buku ini sangat direkomendasikan. Karena seperti yang diutarakan oleh Riawani Elyta, “Kamu mungkin hanya menganggap cinta selalu penuh madu, sampai kamu sadari cinta juga punya racun” (hal.44).

 

Judul : Bukan Pangeran Kodok 

Penulis : Sabrina WS, Riawani Elyta, Sari Yulianti, Dkk

Penerbit : Sheila imprint Penerbit ANDI

Tebal : vi+226 halaman

ISBN : 978-979-29-2136-6

Tahun Terbit : 2013

Bagaimana? Tertarik dengan buku Bukan Pangeran Kodok. Kamu bisa dapatkan bukunya di toko online Bukupedia. Mengapa Aku merekomendasikan Bukupedia? Ini alasannya:

  1. Buku Bukan Pangeran Kodok merupakan buku terbitan tahun 2013. Jika ingin mencari di toko buku yang lain mungkin akan sulit. Sedangkan di bukupedia.com buku ini masih tersedia lho!
  2. Kalian tidak perlu berkeliling toko buku, panas-panasan atau kehujanan. Cukup dari kamar buka situsnya, pesan, tinggal tunggu bukunya sampai di rumah.
  3. Ada sistem garansi juga. Jika buku yang diterima rusak, kamu bisa menukarkan atau mengembalikannya.
  4. Mumpung sekarang di bukupedia.com juga sedang ada promo cashback ongkos kirim 100%. Wow!

Jadi, bagi yang tidak sabar ingin membaca kumpulan cerpen dari buku pangeran kodok ini bisa langsung pesan di sini ya. Selamat membaca!

Sedikit Cerita di Balik Buku Bukan Pangeran Kodok.

Buku ini adalah giveaway dari bunda Shabrina WS. Waktu terima buku ini, sudah janji mau di resensi di blog. Tapi karena kesibukan yang seperti roller coster (sok sibuk #plak), resensi baru bisa di post sekarang. Maaf ya Bunda 😦

Syukurnya sih bisa lunasi hutang, meskipun jadi sangat lama dari September 2014 dan lunasnya Maret 2016.

Lain kali, kalau terima giveaway, mendingan dahulukan untuk dibaca dan langsung diresensi. Karena menurutku, buku yang diperoleh dari hasil giveaway punya beban tersendiri ketimbang buku yang diperoleh dari beli. Penulis yang mengadakan giveaway pastinya ingin bukunya direview dan sekaligus sebagai ajang promosi. Meskipun tidak wajib, tapi paling tidak kita bisa memberikan imbal balik dengan review sebagai tanda “terima kasih” karena telah memperoleh buku + segala manfaat dari buku tersebut. Setuju? 😀

Advertisements

6 thoughts on “[Resensi] Cinta Mengajarkan Banyak Hal

  1. Pingback: Resensi Buku Bukan Pangeran Kodok: Cinta Mengajarkan Banyak Hal

  2. Pingback: [Resensi] Bukan Pangeran Kodok - Blog Bukupedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s