[Resensi] Pergulatan Batin Meraih Mimpi atau Ilusi

28104735

Faith and the City menceritakan tentang perjalanan Hanum dan Rangga di kota New York. Novel ini merupakan lanjutan kisah dari novel Bulan Terbelah di Langit Amerika. Dimana Hanum bertemu dengan Azima Husein, seorang muallaf yang suaminya meninggal saat tragedi 11 september.

Sebuah kejadian membuat Hanum dan Rangga mempertemukan 2 sahabat yaitu Azima Husein dengan Phillipus Brown, seorang milliuner yang dianugerahi Hero of the Year. Setelah penganugerahaan tersebut, semua media menginginkan wawancara ekslusif dengan Azima dan Phillipus. Meskipun keduanya telah menolak dengan tegas tapi media Amerika tetap menginginkan mereka. Termasuk Cooper, seorang wartawan senior idola Hanum.

Di bandara JFK ketika akan kembali ke Wina, Hanum bertemu dengan Cooper yang menawarinya pekerjaan di GNTV selama 3 minggu sebagai reporter junior. Tanpa mengetahui niat terselubung Cooper, dia pun langsung menyanggupi tawaran tersebut tanpa bertanya terlebih dahulu pada Rangga. Hanum berpikir ini adalah kesempatan untuk mewujudkan mimpinya bekerja di media besar New York sekelas GNTV. Jika ia berhasil selama di sini, maka seluruh media di dunia akan mengakui keberadaannya dan tidak lagi dianggap sebagai wartawan kelas nyamuk. Ini juga merupakan peluang untuk rumah tangganya agar dapat hidup lebih baik.

Namun, Rangga tidak menyetujui keputusan Hanum karena ia harus kembali ke Wina untuk menyelesaikan disertasinya. Rangga juga beranggapan bahwa New York tidak memiliki cinta dan kasih sayang, apalagi iman, sebagaimana iman mereka pada Islam (Hal.175). Ia merasa kota ini benar-benar munafik. Umpama ia manusia, kota ini tampak anggun, berpendar, menawarkan banyak karisma, namun menyembunyikan misteri yang susah ditebak. Dan Rangga takut Hanum terjebak (Hal.43). Kendati demikian, Rangga mencoba mengalah karena tidak ingin menghalangi istrinya untuk mencoba menggapai impian. Rangga sepakat untuk tinggal di New York 3 minggu lagi.

Konflik terus berlanjut, New York menguji kekuatan hubungan pasangan ini. Hanum konsisten pergi bekerja di saat suami masih tertidur dan pulang ketika suami sudah terlelap. Ia tak lagi punya waktu untuk Rangga, bahkan hanya untuk sekedar menyiapkan sarapan yang layak.

Rangga tidak ingin situasi seperti itu terus berlanjut. Ia mencoba mengingatkan Hanum akan kesalahannya. Bukan hanya melupakan kewajiban utama sebagai seorang istri melainkan juga karena terlena dengan ambisinya untuk diakui dunia meski ia harus menggilas nurani.

Di sisi lain Cooper terus mempengaruhi Hanum agar terus bekerja padanya. Ia meyakinkan Hanum dengan iming-iming menjadi karyawan tetap. Sebuah posisi yang sangat sulit diraih tapi diidam-idamkan semua wartawan.

Konflik batin dalam diri Hanum pun bergejolak. Ia akhirnya harus dihadapkan pada dua pilihan sulit. Memilih pesona New York sebagai pembuktian eksistensi dirinya atau rumah tangga yang telah dibangun dengan pondasi iman dan cinta.

Pilihan harus ditetapkan. Hanum memilih tinggal di New York sementara Rangga kembali ke Wina. Di hari keberangkatan Rangga, Hanum harus bertugas sebagai produser pada acara Insights Muslims. Pikiran Hanum terbagi karena episode kali ini harus menghadirkan Azima dan Phillipus yang sudah berusaha dihubungi tapi sepertinya menolak karena tidak memberi jawaban apapun. Hanum pasrah dengan kondisi yang membelitnya.

Tanpa diduga Azima dan Philipus datang ke studio dan melakukan wawancara. Di sini, dengan alur yang dramatis, mereka mengingatkan Hanum untuk segera mengejar impiannya yang sejati, yaitu Rangga. Hanum pun memutuskan untuk memilih sang suami dan mengabaikan rayuan the City.

Dari segi penuturan, kemampuan penulis memang tidak perlu diragukan lagi. Namun dari segi alur cerita, ending dibuat terlalu dramatis membuat kisah dalam novel ini jadi sedikit hambar. Ekspektasi di awal tidak sesuai ketika sampai pada akhir cerita. Meskipun terdapat beberapa cacat penulisan, tetapi tidak sampai mengganggu kenikmatan membaca.

Adapun pesan moral yang disampaikan jelas dan sampai pada pembaca.  Novel ini mengajak kita untuk berpikir kembali tentang makna kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang menjelma dalam sebuah impian atau Ilusi yang seolah nyata. Memberi gambaran mengenai hakikat dunia yang sesungguhnya. Bahwasanya dunia adalah kesenangan pun kesedihan yang menipu (Hal. 211). Bak fatamorgana, semakin dikejar ia akan semakin menjauh.

Detail Buku

Judul Buku : Faith and the City
Penulis : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Desember 2015
Tebal : 232 halaman
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-2433-3

Dimuat Koran Jakarta, Edisi 30 April 2016, halaman 6.

Resensi Faith and the City

Surprise banget sebenarnya waktu dapat e-mail dari Korjak. Sampai lompat-lompat, hahaha. Karena aku pikir tulisanku nggak dimuat. Padahal, aku cek webnya tiap hari. Ternyata eh ternyata, tulisanku dimuat hari sabtu. Nggak ditayangin di web. Itupun e-mail dari korjak 2 pekan setelah pemuatan. Untung aja ada e-mail dari korjak, kalau nggak gitu mungkin aku nggak bakalan tahu tulisanku dimuat 😀 Alhamdulillaah 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s