[Resensi] Belajar Memanusiakan Manusia dari Cerita Cinta yang Tak Biasa

“Cerita yang kita punya takkan ada jika tak percaya” – Dalam Duka, Letto

13237835_1366653490028344_4083677831693177622_n

Apakah kamu mempunyai benda kesayangan? Yang dijadikan tempat berbagi saat suka atau pun duka. Seperti boneka atau motor misalnya. Bagaimana jika benda yang selama ini kamu ajak bicara bisa memahami apa yang kamu katakan? Bahkan benda tersebut bisa merasa dan bahkan jatuh cinta? Tema itulah yang diangkat dalam novel berjudul Maneken ini.
Maneken, sesuai judulnya bercerita mengenai dunia sepasang maneken bernama Claudia dan Fere. Maneken yang mempunyai kemampuan spesial layaknya makhluk hidup. Kedua maneken ini adalah maneken istimewa yang dipajang di toko Medilon Shakespeare. Toko ini memiliki konsep berbeda dan ingin menjadi trend setter di dunia fashion. Pemilik toko tersebut bernama Shopie. Ia adalah manager yang mengonsep Medilon Shakespeare sekaligus yang membuat ke-2 maneken itu menjadi bintang.
Kisah berawal ketika Shopie membawa Claudy ke dalam Medilon Shakespeare. Ia meletakkan Claudy di dalam sebuah etalase utama. Etalase yang terbuat dari kaca murni dan terletak di bagian paling depan toko, menjorok keluar membentuk lengkungan. Shopie mengatakan pada Claudy bahwa etalase tersebut diperuntukkan khusus untuknya dan dialah yang paling pantas menempatinya (halaman 3). Perkataan Shopie inilah yang kemudian membuat Claudy tidak senang dengan Fere, maneken pria yang diletakkan pada etalase yang sama dengannya.
Ketidaksukaan Claudy semakin menjadi saat Fere memperkenalkan diri dengan bahasa Prancis. Bahasa yang sama sekali tidak dimengerti oleh Claudy. Claudy jadi merasa terlihat bodoh. Ini membuatnya mempunyai kesan yang tidak bagus mengenai Fere. Menurutnya, Fere adalah maneken yang sombong.

Namun, perasaan Claudy perlahan-lahan berubah. Kejadian demi kejadian yang harus dilewati bersama Fere membuatnya merasakan sesuatu. Dia tak menyangka akan merasakan desiran aneh yang menyulut, menyentak dan menjalar dari sentuhan tangan itu ke bagian tubuh yang lain. Seolah ada sebuah kabel yang menghubungkan lapisan tangan yang disentuh itu dengan bagian tubuh yang lain. Claudy merasa tersengat (halaman 49). Didapati dirinya berdegup. Dia merasa tubuhnya hangat sekaligus berdesir dan napasnya jadi aneh (halaman 52).
Claudy yang sudah yakin dengan perasaannya tidak sabar untuk mengetahui perasaan Fere yang sebenarnya. Tanpa diduga Fere mengatakan bahwa menurutnya mereka diciptakan untuk bersama, ditakdirkan bersama (halaman 53). Karena ada dua hal yang membuatnya yakin. Pertama, ternyata mereka berdua adalah replika Shopie dan kekasihnya yang tinggal di Perancis. Kedua, mereka memutuskan untuk saling mencintai.
Kebahagiaan Claudy dan Fere tidak berlangsung lama. Shopie yang diputuskan oleh tunangannya sedih dan melampiaskan kemarahannya pada maneken Fere. Shopie mengamuk dan mematahkan beberapa bagian tubuh Fere. Mereka hanya bisa diam menerima perlakuan itu karena kemampuan istimewa mereka tidak bisa digunakan di depan manusia. Tidak puas dengan merusak Fere, Shopie kemudian membawa Fere keluar jauh dari Medilon Shakespeare dan membuangnya.
Claudy merutuki perlakuan Shopie yang semena-mena pada mereka. “Karena keangkuhan Shopie, aku dipaksa bertahan di etalase utama yang jadi seperti neraka ini. Padahal jika boleh memilih, aku lebih suka dipotong-potong dalam bagian kecil-kecil lalu dibakar bara api” (halaman 97). Perasaan Claudy yang sedih karena berpisah dengan kekasihnya ini pun sampai pada pengunjung. Setiap ada yang lewat dan melihat maneken Claudy, mereka akan merasa sedih dan bahkan menangis.
Medilon Shakespeare yang awalnya ramai pun menjadi sepi. Aura kesedihan yang meliputi toko itu membuat orang-orang enggan masuk apalagi berbelanja di sana. Hal ini membuat Shopie memutuskan untuk memindahkan Claudy dari etalase utama dan menggantinya dengan maneken yang lain. Pemindahan Claudy ternyata tidak hanya sebatas berdiam di gudang tetapi jauh dari Medilon Shakespeare. Claudy di bawa ke sebuah tanah lapang yang dekat dengan sungai. Di sini Shopie ingin melakukan ritual pelenyapan dengan membakar Claudy sebagai simbol dirinya yang baru.
Di sisi lain, Fere dengan kemampuan istimewanya terus berjalan dalam kegelapan malam untuk mencari sang belahan jiwa. Ia ingin mengajak Claudy pergi dari Medilon Shakespeare. Namun, saat hampir sampai di kota, Fere “diculik” oleh seorang yang tak dikenal. Orang itu membawa Fere ke kediamannya dan akan dijadikan bahan bakar.
Bagaimana nasib Fere selanjutnya? Akankah Ia dapat menyelamatkan diri? Bisakah ia bertemu dengan sang kekasih? Apakah mereka akan bersatu atau malah berubah menjadi abu? Semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan terjawab dalam novel bergenre Romance Fantasy ini. Sebuah novel dengan ending yang tak terduga.
Ini bukan pertama kalinya saya membaca novel bergenre romance fantasy. Tetapi novel ini bagi saya begitu berbeda. Karena ditulis oleh penulis Indonesia dan hebatnya novel ini adalah novel perdananya. Awal saya membeli novel ini jujur saja karena melihat penerbitnya. Mahaka publishing yang merupakan imprint dari penerbit Republika merupakan salah satu penerbit favorit saya. Karena penerbit ini selalu menghadirkan buku-buku yang berkualitas dan sesuai dengan selera saya. Setelah menuntaskan novel ini, saya pun dibuat semakin jatuh hati. Seperti novel-novel terbitan Republika yang telah lebih dulu terbit, novel ini tidak mengecewakan.
Menurut saya, ada beberapa catatan menarik baik positif ataupun negatif mengenai novel ini.
1. DESAIN
(+) Cover novel ini cenderung sederhana dengan gambar 2 maneken mengenakan pakaian pengantin. Tapi, jika diperhatikan lebih dekat, di belakangnya ada siluet wanita yang sedang menangis sambil memegangi cincin. Penggambaran ini sangat mewakili isi novel. Maneken Fere dan Claudi yang menjadi refleksi dari Shopie dan kekasihnya. Cincin yang mewakili pertunangan dibatalkan saat kedua maneken menggunakan pakaian pengantin.
(-) Di bagian awal tiap bab, ilustrasi yang digunakan adalah boneka kecil yang duduk di kursi. Gambar ini seharusnya di ganti dengan kedua maneken yang ada di cover atau dihilangkan saja sekalian. Karena sepanjang cerita dalam novel, tidak ada kisah mengenai boneka/ maneken kecil.
2. TEMA
(+) Tema yang diangkat tidak pasaran. Bukan kisah cinta manusia tetapi kisah cinta maneken. Benda mati yang dianggap hanya pajangan ternyata bisa merasakan jatuh cinta dan bisa memperjuangkan cintanya.
3. DAFTAR ISI
(+) Tiap bab memiliki judul yang sangat unik dan lagi-lagi mewakili isi cerita dan tema. Seperti New Beginning Story collection. Kita akan segera tahu dari bab 1-6 adalah pembuka/ pengenalan tokoh, situasi dsb. Kata collection langsung mengingatkan pada toko. Pemilihan kata pasif seperti dinamai, diletakkan, diperlihatkan, dst, untuk tiap judul seolah-olah ingin mengingatkan bahwa yang menjadi tokoh Aku sebenarnya adalah benda mati.
(-) Kesalahan ketik pada bab 12 dan 13. Pada tulisan yang lain tidak menggunakan tanda titik koma (;), hanya penulisan 2 bab ini yang terdapat ;.
4. DIKSI
(+) Diksinya sangat memikat. Seperti endorsment dari Tasaro GK, “Setiap kata dalam novel Maneken ini seakan dipilih dengan kesadaran penuh akan rimanya, maknanya, filosofisnya dan kritikannya” dan saya setuju. Pembaca dihadirkan dengan ratusan halaman puitik nan mempesona. Untuk yang gemar quote, akan ditemukan banyak sekali rankaian kata yang akan membuat hati meleleh. Contohnya “… meski kita adalah bumi yang membara dan langit yang membeku, kurasa kita akan berakhir bersama”.
5. ALUR
(+) Alur yang dipakai sepenuhnya adalah alur maju, terasa sederhana dan mengalir. Secara pribadi saya lebih menyukai alur ini. Karena tidak perlu dipusingkan dengan kejadian di masa lampau dan kemudian harus kembali ke masa depan.
(+) Empat hal yang “wajib” ada dalam penguraian plot, yaitu plausability (dapat dipercaya), suspense (ketegangan yang membangkitkan rasa ingin tahu), surprise (yang mengejutkan pembaca) dan unity (keterpaduan), menurut saya berhasil dihadirkan penulis.
(+) Logis. Salah satu kelemahan novel bergenre fantasy adalah terkadang tidak logis. Tetapi dalam novel ini, penulis membuatnya menjadi masuk akal. Penulis memberikan penjelasan yang bisa diterima dan cukup detail. Contohnya, Fere bisa berbahasa Prancis dan Inggris karena salah satu dari 5 kemampuan istimewa maneken, yaitu bisa berbahasa apapun. Tetapi, kemampuan ini juga didapatkan dengan proses belajar, mendengarkan manusia berbicara bahasanya.
(-) Alurnya terlalu pelan di awal. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, bab 1-6 adalah pengenalan. Karena panjangnya bagian ini membuat saya menjadi tidak sabaran. Penulis sebenarnya bisa saja membuatnya lebih menghentak di awal agar pembaca tidak sempat merasakan jeda.
6. KONFLIK
(+) Konflik demi konflik yang dihadirkan tidak terduga. Apalagi penyelesaian konfliknya. Penulis membuat pilihan yang cerdas dengan menambahkan bumbu mistis.
7. SETTING
(+) Deskripsi tempat digambarkan dengan cukup detail. Pembaca seolah-olah juga melihat apa yang dialami oleh tokoh Aku dalam novel ini.
(-) Lokalitas kurang terasa. Dari sekian percakapan yang terdapat dalam novel ini, tidak banyak percakapan dalam bahasa Inggris. Yang lebih banyak dihadirkan justru bahasa Prancis. Padahal, latar tempat yang digunakan adalah Inggris.
8. AMANAT
(+) Bertabur pesan moral. Poin terpenting dari sebuah karya adalah pesan moral yang bisa dipetik. Penulis sangat lihai memasukkan pesannya dalam novel ini. Baik secara tersurat ataupun tersirat. Tidak jarang juga dijumpai ungkapan bernada satire. Seperti kalimat ini “Aku kira semua orang berada pada kedudukan yang sama, maksudku rumah yang bersih, tertata, layak dan nyaman. Namun ternyata, hal itu mesti kutolak. Di bagian luar perkotaan, tepatnya di pinggiran, aku menemukan pemukiman yang tak segemerlap perkotaan itu sendiri” atau “Oh Tuhan, mereka bilang ingin seperti kami. Padahal akulah yang ingin seperti mereka. Sungguh ini anugerah sebesar gunung yang ditimpakan kepadaku” (halaman 67).
Seperti kalimat yang dituliskan di bagian belakang buku: “Novel ini akan membuka mata hatimu dengan menempatkanmu pada posisi benda mati yang tak dihiraukan, meski sedang berjuang mati-matian untuk mencapai mimpi-mimpi. Kau akan melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan semoga itu akan membuatmu semakin mengerti, betapa kami, aku dan Claudy, iri kepada kalian
Pesan utama yang bisa saya tangkap dari novel ini adalah agar kita dapat menyadari dan bersyukur dengan entitas kita sebagai manusia. Meskipun berbagai ujian dan cobaan dirasakan begitu berat, tetapi kita tetap dapat memilih. Tidak seperti benda mati yang hanya bisa pasrah dengan apapun yang terjadi padanya, manusia mempunyai pilihan untuk kalah atau bertahan dan menang. Pada akhirnya, kita akan belajar untuk memanusiakan manusia.
Berdasarkan beberapa catatan di atas, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak merekomendasikan novel ini. Bagi pecinta novel dengan genre romance, novel ini akan menjadi koleksi yang berbeda dan menarik untuk diselami. Semoga resensi saya membantu dan bermanfaat ^_^
Detail Buku
Judul: Maneken
Penulis: SJ. Munkian
Editor: Triana Rahmawati
Penerbit: Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Cetakan: I, September 2015
Tebal: 181 halaman
ISBN: 9786029474060
Harga: Rp 47.000

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s